Assalamu
alaikum
Salam
sapa kuharapkan sampai pada kalian yang membaca. Sebelum melanjutkan, mau
bertanya dulu bagaimana kabar kalian saat ini? Kuharap dan kudoakan agar baik
dan sehat.
Tulisan
kali ini berisi nasihat dan penyemangat kutujukan kepada siapapun yang merasa
membutuhkan. Tidak terlalu peduli siapapun, mau itu orang terdekatku, orang
terjauh, orang dekat yang menjauh, atau aku sendiri.
Pernah
merasakan bahwa sebenarnya ikhlas itu indah? Iya sebenarnya indah, hanya saja,
entah kenapa stimulus di otak memberi respon sebaliknya. Dugaan ku itu ada
kaitannya dengan kontrol emosi yang sukar diterima dan didefinisikan oleh
tubuh. Namun, hal itu hanya berlangsung sementara, kok, hanya di awal-awal saja
yang susah, selebihnya saaaangaaaattt indah.
Saat
sesuatu lepas dari kita, disaat itu pula kata ikhlas akan datang dan akrab di
indra. Selama ini kuyakini bahwa semua manusia bisa mengembangkan rasa ikhlas
yang sudah ada dalam dirinya, hanya butuh terbiasa dan sedikit paksaan. Saya
kurang suka dengan kata “Aku tidak ikhlas” karena perkataan itu sedikit ragu,
orang bukannya tidak ikhlas, dia ikhlas kok hanya saja dia belum bisa
mengekspresikan ke-ikhlasannya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima
sesuatu, kita juga harus mempersiapkan diri apabila sesuatu itu pergi, dan itu
adalah suatu keharusan. Kita adalah manusia, makhluk hidup tidak ada yang
abadi. Nah, caranya dengan apa? Ya dengan mengikhlaskan, memangnya dengan cara
apa lagi? Karena harus mengikhlaskan, maka dari itu kita harus yakin bahwa stok ikhlas dalam diri kita akan mampu
menggantikan sesuatu yang sudah pergi itu.
Coba
kita mulai melihat kebelakang, pasti ada saat ketika masih kecil, kita tidak
dibelikan barang seperti barang punya teman yang selalu dia pamerkan, lalu kita
menangis namun lambat laun berhenti dan menerima, akhirnya melupakan keinginan
untuk mendapatkan mainan itu. Entah karena sudah lelah merengek atau mainannya
sudah tidak hype lagi. Saat tes masuk
PTN dan hasilnya gagal, lalu kita jadi minder dan sedih. Pada kondisi ini kita
akan berkata bahwa tidak dibelikan mainan saat kecil masih mending dari pada
tidak lolos masuk PTN. Saat dipecat dari pekerjaan yang sudah susah payah
didapatkan, lalu kita jadi hilang semangat. Pada kondisi ini (lagi) kita akan
berfikir bahwa ditolak PTN lebih mending daripada dipecat dari pekerjaan saat
lagi semangat-semangatnya. Kemudian, saat gagal mempertahankan pernikahan yang
sudah dibina bertahun-tahun, lalu kita malu dan takut akan dosa, pada kondisi
ini (lagi) kita akan menyadari bahwa dipecat dari pekerjaan agak mendingan
daripada bercerai dengan pasangan.
Begitu seterusnya, lagi dan lagi, ujian dan
ujian akan terus berdatangan. Tidak dapat dihindari, karena apa? Karena semua
itu datangnya langsung dari Tuhan.
Kalau
sudah begitu ya sudah..... terima saja, ikhlaskan saja, kalau tidak bisa ikhlas
ayo paksakan untuk ikhlas memangnya kamu bisa melawan kehendak Tuhan? Jelas tidak
hehe. Semakin banyak waktu yang diberikan untuk hidup maka semakin banyak pula
rasa kehilangan akan datang nantinya, cara mengakalinya agar kita tidak terlalu
sedih adalah perbanyak dan pelihara rasa ikhlas dalam diri, jangan sampai rasa
ikhlas itu hilang.
Pernah
memperhatikan kenapa ada orang yang ketika kehilangan, ia sangat Marah? Marah?
Sedikit marah?
Ia
sangat menangis? Menangis? Sedikit menangis?
Ia
sangat stress? Stress? Sedikit stress?
Ia
sangat sabar? Sabar? Sabar namun sedihnya berlarut-larut?
Itu
karena pengembangan ikhlas setiap manusia berbeda-beda otomatis kadar ke
ikhlasan seseorang sudah pasti berbeda. Kalau kata Tere Liye dalam bukunya yang
berjudul Tentang Kamu, maknanya kira-kira begini : jangan sedih ketika semua
sudah berlalu namun bahagialah karena sesuatu itu pernah terjadi.
Lambat
laun semua kesedihan itu akan hilang, kok, percaya deh, hanya saja setiap orang
membutuhkan waktu yang berbeda untuk menyudahi kesedihannya. Tergantung
besarnya ikhlas, semakin besar rasa ikhlas maka sedihnya akan cepat selesai.
Sedih akan tetap ada namun sedihnya akan terasa berbeda karena kita menerimanya.
Hati jadi ringan dan kita bisa senyum kembali
-Makassar,
30 Agustus 2019. Untuk diriku dan orang-orang yang membutuhkan.
Komentar
Posting Komentar
hai.. enter your comments here and be polite. thanks... :)